MIN 1 Sidoarjo Tanamkan Jiwa Ekologis Lewat Tradisi Bungkus Daging Daun Jati Pada Idul Adha 1447 H

Pagi yang cerah menyelimuti lingkungan MIN 1 Sidoarjo pada Kamis, 28 Mei 2026. Ada yang berbeda dan menarik perhatian dalam pelaksanaan ibadah Idul Qurban di madrasah ini. Tak tampak lagi gunungan kantong plastik kresek hitam atau putih yang biasanya melingkari area pemotongan hewan qurban. Sebagai gantinya, aroma segar daun jati menyeruak di antara kesibukan para panitia.

MIN 1 Sidoarjo kembali membuat gebrakan ramah lingkungan yang menginspirasi. Selama dua tahun terakhir, madrasah ini telah berkomitmen penuh untuk bermigrasi total dari plastik sekali pakai ke daun jati sebagai wadah pembungkus daging qurban. Pada tahun ini, keceriaan terpancar dari wajah warga madrasah dan masyarakat sekitar dilingkungan madrasah. Sebanyak lebih dari 300 bungkusan daging qurban yang dikemas rapi menggunakan ikatan daun jati berhasil didistribusikan.

Foto 1. Siswi MIN 1 Sidoarjo membagikan daging kurban menggunakan daun jati sebagai bungkus daging qurban

Langkah ini bukan sekadar aksi ikutan atau gaya-gayaan trend go green. Pemilihan daun jati oleh pihak madrasah didasari oleh alasan ilmiah yang kuat demi menjaga kualitas daging yang dibagikan. Sama halnya dengan daun pisang, daun jati ternyata memiliki karakteristik khusus yang sangat menguntungkan untuk mengemas bahan pangan segar seperti daging.

Tahukah kalian? Berdasarkan penelitian para ahli, daun dari tanaman kayu jati terkenal karena daya tahannya yang ekstrem, stabilitas dimensi, serta kekerasannya yang alami. Menariknya lagi, daun jati memiliki kandungan antibakteri dan antimikroba alami yang tahan terhadap pembusukan. Dengan karakteristik biologis tersebut, daging qurban yang dibagikan kepada warga diharapkan dapat terjaga kesegarannya lebih lama, tetap higienis, dan terhindar dari kontaminasi bakteri pembusuk selama proses pendistribusian.

Kegiatan qurban di MIN 1 Sidoarjo kali ini berhasil menyatukan dua dimensi pembelajaran penting bagi para peserta didik; yakni spiritualitas dan ekologis. Melalui momen ini, anak-anak tidak hanya diajarkan untuk memetik hikmah spiritual meneladani keikhlasan dan ketaatan Nabi Ibrahim AS serta Nabi Ismail AS dalam berqurban, tetapi juga diajak langsung menjadi agen perubahan bagi bumi. Mereka dikenalkan pada aksi nyata menjaga lingkungan dengan cara membatasi penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari. Gebrakan Idul Qurban hijau di MIN 1 Sidoarjo ini menjadi bukti nyata bahwa tradisi keagamaan bisa berjalan beriringan dengan kelestarian alam. (zd)