Ada yang berbeda dari suasana di MIN 1 Sidoarjo pagi ini. Tidak hanya riuh dengan suara hafalan doa, namun Butterfly Waste sebutan bagi kader pokja sampah MIN 1 Sidoarjo serta seluruh warga madrasah tampak kompak “turun gunung” membawa sarung tangan dan kantong sampah. Dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) yang jatuh setiap tanggal 21 Februari, MIN 1 Sidoarjo menggelar aksi serentak bertajuk pengelolaan lingkungan berkelanjutan. Bukan sekadar seremonial, kegiatan ini menyasar langsung ke titik-titik krusial, yakni selokan sekolah dan pemilahan limbah harian.
Aksi dimulai dengan membersihkan selokan di area lingkungan madrasah. Para siswa, didampingi guru dan staf, bahu-membahu mengangkat sampah yang menyumbat aliran air. “Kami ingin anak-anak sadar bahwa sekecil apa pun sampah yang dibuang ke selokan, dampaknya bisa besar, mulai dari bau tidak sedap hingga banjir saat hujan turun,” ujar Sri Utami selaku kepala madrasah.

Tidak berhenti di situ, inti dari kegiatan ini adalah edukasi pemilahan sampah. Siswa diajarkan untuk tidak lagi mencampuradukkan limbah. Mereka praktik langsung memisahkan:
Sampah Organik: Sisa makanan dan daun kering yang nantinya akan diolah menjadi kompos.
Sampah Anorganik: Plastik, kertas, dan botol bekas yang akan disalurkan ke bank sampah madrasah.
Tujuan utama dari gerakan ini bukan sekadar membersihkan madrasah dalam sehari, melainkan menanamkan nilai-nilai karakter. Madrasah ingin mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki empati tinggi terhadap kelestarian lingkungan. Melalui pengelolaan sampah yang benar, seluruh warga MIN 1 Sidoarjo diharapkan dapat memahami bahwa sampah bukanlah musuh jika dikelola dengan bijak, melainkan sumber daya yang bisa dimanfaatkan kembali. (lw)
